[Softskill] Penduduk dan Masyarakat

Pengertian Penduduk dan Masyarakat

Didalam suatu wilayah tentu ada yang namanya penduduk dan masyarakat. Penduduk sendiri adalah orang-orang yang tinggal di suatu wilayah yang berinteraksi dan saling berhubungan satu sama lain tanpa adanya diskriminasi antara satu dengan lainnya. Sedangkan masyarakat sendiri adalan kumpulan orang-orang yang tinggal di suatu wilayah yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam suatu wilayah dalam kurun waktu yang cukup lama, memiliki kebudayaan yang sama serta mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan daerah nya secara bersama-sama/berkelompok. Dan sebelum adanya penduduk dan masyarakat, biasanya sebelum orang itu menjadi seorang penduduk/bagian dari masyarakat yang kini ia tempati wilayahnya berasal dari suatu wilayah tertentu yang jauh sebelum ia pindah ke wilayah yang saat ini ia tempati. Entah itu berasal dari luar kota maupun dari luar negeri atau kita biasa menyebutnya migrasi.

Dalam memutuskan untuk berpindah/migrasi ke suatu wilayah yang baru, ada banyak faktor yang mempengaruhi orang-orang tersebut untuk berpindah ke suatu wilayah yang baru. Faktor-faktor itu sendiri dibagi ke dalam dua, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.

Faktor Penarik:

  • Adanya rasa kecocokan di tempat yang baru atau kesempatan untuk memasuki lapangan pekerjaan yang cocok
  • Kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik
  • Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi
  • Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang dianaggap menyenangkan misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas umum lainnya
  •  Banyak terdapat tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi penduduk-penduduk pedesaan atau kota kecil.

Faktor Pendorong:

  • Berkurangnya lapangan pekerjaaan di tempat asal
  • Bencana alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus dll
  • Adanya wabah penyakit berbahaya
  • Makin berkurangnya sumber-sumber alam ditempat asal
  • Adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama atau suku di daerah asal
  • Alasan perkawinan atau pekerjaan yang mengharuskan pindah dari daerah asal

Contoh Kasus:

Jakarta Membludak, Pendatang Bergeser ke Pinggiran

Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik DKI Nyoto Widodo menyebut, Jakarta sudah tidak menjadi magnet tunggal bagi kaum pendatang. Dalam satu dasa warsa terakhir tujuan kaum urban mulai bergeser ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

Pertumbuhan ekonomi di beberapa kawasan penyangga Jakarta itu disebut mulai tinggi. Laju pertumbuhan penduduknya pun mulai melonjak. Hasil sensus tahun 2000 – 2010 menyebut, angka laju pertumbuhan penduduk di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mencapai 3,67 persen. 

Angka itu hampir tiga kali lipat dibandingkan Jakarta yang hanya 1,40 persen. Menurut Nyoto itu terjadi karena kini peluang kerja masyarakat urban memang lebih besar di daerah penyangga Jakarta. Apalagi sejumlah industri kecil, menengah, serta jasa perdagangan sudah mulai tumbuh.

Sementara di Jakarta, peluang kerja lebih dominan di sektor keuangan dan perbankan yang perlu syarat pendidikan. “Kaum urban itu sebagian pendidikan tamatan sekolah menangah atas dan di bawahnya. Bersaing di Jakarta, kesulitan dengan yang punya pendidikan sarjana,” kata Nyoto kepada detikcom, Jumat (16/8) lalu. 

Menurut dia, selama ini persepsi khalayak terkait meningkatnya kaum urban sebenarnya salah. Ada kecenderungan kaum urban memanfaatkan Jakarta hanya sebagai tempat singgah. Setelah ada kepastian informasi pekerjaan, maka mereka hijrah dan menyebar ke wilayah Bogor, Tengerang, Depok, dan Bekasi yang peluangnya lebih besar. 

Persoalan lain juga karena biaya hidup di Jakarta lebih mahal, sehingga membuat kaum urban masih belum mendapatkan pekerjaan. Belum lagi administrasi kependudukan Jakarta yang lebih ketat dengan seringnya operasi yustisi membuat kaum urban kapok.

“Bodetabek itu sudah menjadi magnet lain. Jadi, bukan Jakarta lagi. Jakarta sudah migrasi risen netto negatif karena sudah banyak yang keluar,” ujarnya. 

Sementara, disinggung kaum urban yang secara kasat mata terlihat meningkat seperti para gepeng di jalanan itu menurutnya lebih disebabkan faktor budaya dan mental. 

Kebiasaan ini dilakukan para gepeng musiman ini karena ada pemberian uang dari masyarakat ibukota.

Padahal, para gepeng musiman ini rata-rata sedang menunggu panen di kampung halamannya. “Kalau belum panen itu mereka ke Jakarta. Mereka itu sulit selama mentalnya seperti itu,” sebutnya. 

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta Purba Hutapea mengatakan penurunan kaum urban terjadi karena warga mulai sadar, bahwa peluang kerja dan biaya tempat tinggal di ibu kota lebih berat. Dia mengklaim pihaknya terus mensosialisasikan kepada masyarakat urban, jumlah penduduk di Jakarta sudah melewati batas kuota yang wajar. 

Tahun 1965 sampai 1985, Saat era Gubernur Ali Sadikin diprediksi daya tampung Jakarta hanya 5 hingga 6 juta jiwa. Sementara, tahun 2010 – 2030, diprediksi angka daya tampung Jakarta menyesuaikan luasnya yakni 12,7 juta jiwa. Saat ini jumlah penduduk Jakarta pada malam hari tercatat 9,7 juta jiwa.

Namun pada pagi dan siang hari, jumlah ini melonjak menjadi 12,5 juta jiwa. “Iya, itu yang terjadi sekarang sudah seperti 12,7 juta. Bagaimana nanti tahun 2030 kan?,” kata Purba kepada detikcom, Kamis (15/8), pekan lalu.

Dia memprediksi jumlah masyarakat kaum urban yang datang pasca Lebaran tahun ini mencapai 52 ribu orang. Setelah di survei, sekitar 15 ribu di antaranya tidak akan menetap di Jakarta. Mereka mendapat pekerjaan di Bodetabek dan akan kembali ke kampung halamannya.

Dari kasus di atas, ada beberapa hal yang disinggung terkait dengan kasus di atas. Kita bisa melihat ada begitu banyak masyarakat yang memutuskan untuk menjadi seorang ‘pendatang’ dikota Jakarta namun nyatanya mereka justru tidak mendapatkan kesempatan bekerja di Jakarta dan beralih untuk mendatangi kota-kota ‘pinggiran’ Jakarta seperti Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi karena di kota-kota pinggiran tersebut ada banyak kesempatan kesempatan yang kemungkinan masih bisa mereka dapatkan hanya dengan bermodalkan ijazah tamatan SMP/SMA. Lagipula, di kota Jakarta yang saat ini sudah sangat ‘overload’ akan sangat impossible untuk seseorang yang hanya tamatan sekolah menengah mendapatkan pekerjaan di Jakarta yang mayoritas memiliki syarat untuk jenjang sarjana. Dan menurut saya, keputusan untuk singgah ke kota-kota pinggiran disekitar Jakarta adalah salah satu keputusan yang cukup baik mengingat lowongan-lowongan pekerjaan disana cukup banyak dan menjanjikan serta biaya hidup pun cukup memadai.

Sumber:

http://armandahasan.wordpress.com/2012/12/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-migrasi/

http://noviadevina.blogspot.com/2010/10/pengertian-penduduk-masyarakat-dan.html

http://news.detik.com/read/2013/08/19/123930/2333915/10/1/jakarta-membludak-pendatang-bergeser-ke-pinggiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s